IFADNet Gelar Webinar Seri 1 Dengan Menggandeng Para Alumni IPB, DKP Kalimantan Barat, Mitra Bahari Dan Beberapa Perguruan Tinggi di Kalimantan Barat

IFADNet Gelar Webinar Seri 1 Dengan Menggandeng Para Alumni IPB, DKP Kalimantan Barat, Mitra Bahari Dan Beberapa Perguruan Tinggi di Kalimantan Barat

  • Post author:

Poltesa – IFADNet merupakan jejaring komunitas para pemerhati rumpon dari beberapa praktisi, akademisi, dan himpunan alumni dari IPB. IFADNet sendiri didirikan pada tanggal 29 Mei 2021 berkat inisiatif dari ahli rumpon IPB Roza Yusfiandayani yang telah mengumpulkan para praktisi, akademisi, serta alumi yang menjadi pemerhati rumpon dari seluruh Indonesia. Pada hari Sabtu (17/07/2021) IFADNet resmi menyelenggarakan webinar untuk pertama kalinya secara daring dengan Proviinsi Kalimantan Barat sebagai tuan rumah penyelenggara webinar. Adapun topik yang diangkat dari kegiatan webinar ini adalah “Perspektif Penggunaan Rumpon untuk perikanan laut yang berkelanjutan di Kalimantan Barat”. Acara yang dilaksanakan secara daring via zoom meeting ini menggandeng beberapa pihak antara lain IPB University, Program Mitra Bahari Indonesia, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Himpunan Alumni IPB DPC Kalimantan Barat, serta beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Kalimantan Barat antara lain : Universitas Muhammadiyah Pontianak, Universitas OSO, Politeknik Negeri Pontianak dan Politeknik Negeri Sambas sebagai fasilitator zoom meeting. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat Herti Herawati dalam sambutannya menyampaikan beberapa paparan terkait potensi sumberdaya perikanan laut di Provinsi Kalimantan Barat yang tepatnya berada pada WPP-711 dan WPP 712 yang meliputi Perairan Natuna, Laut Cina Selatan, dan Selat Karimata. Pemaparan yang disampaikan tarkait pemanfaatan potensi perikanan berkelanjutan dan bertanggung jawab harus terus didorong sehingga memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.  Herti menambahkan, bahwa potensi perikanan yang besar di Kalimantan Barat tidak lepas dari peran nelayan dalam memanfaatkan rumpon dan diakhiri dengan pemaparan beberapa peraturan terkait penempatan rumpon di Kalimantan Barat.  Kegiatan ini bertujuan mensosialisasikan manfaat dari penggunaan rumpon dalam operasi penangkapan ikan yakni meningkatkan peluang keberhasilan operasi penangkapan ikan dan penghematan biaya operasi penangkapan ikan, mensosialisasikan inovasi alat bantu penangkapan ikan serta jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.

Webinar yang diikuti oleh kurang lebih 300 Peserta dari seluruh Indonesia ini, berlangsung selama 3 jam dengan menghadirkan keynote speaker dan beberapa narasumber yaitu dosen-dosen dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Barat. Moderator dalam acara ini yaitu Zan Zibar yang merupakan dosen Universitas OSO menyebutkan beberapa rangkaian acara utama antara lain ; pemaparan dari keynote speaker yaitu Roza Yusfiandayani yang dalam acara ini berperan sebagai ahli rumpon, narasumber pertama yaitu Onesimus Dhyas Dwi Atmajaya yang merupakan dosen Politeknik Negeri Sambas dengan bidang keahlian teknologi penangkapan ikan, narasumber kedua yaitu Eka Indah Raharjo yang merupakan dosen Budidaya Perikanan Universitas Muhammadiyah Pontianak, narasumber ketiga yaitu Belvi Vatria yang merupakan dosen Politeknik Negeri Sambas dan Heriyansah selaku ketua jurusan Politeknik Negeri Sambas yang juga praktisi perikanan rumpon di Kalimantan Barat.

Peserta yang hadir dalam acara webinar begitu antusias menyimak materi yang di sampaikan meliputi peraturan KKP NOMOR 36/PERMEN-KP/2014 tentang rumpon, menyebutkan bahwa rumpon adalah alat bantu mengumpulkan ikan yang menggunakan berbagai bentuk dan jenis pengikat/atraktor dari benda padat, berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul, yang dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi penangkapan ikan. Secara sederhana, rumpon dibuat untuk menarik dan mengumpulkan gerombolan ikan guna membantu peningkatan hasil tangkapan nelayan.

Rumpon portable adalah salah satu teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan guna meningkatkan daya dukung sumberdaya ikan. Rumpon portable  yang  digunakan  adalah alat untuk mengumpulkan ikan dengan menggunakan frekuensi suara. Rumpon portable ialah sebagai alat pemanggil ikan. Bahan yang digunakan dalam rekayasa teknologi pengayaan sumberdaya ikan pelagis ini adalah terbuat dari fiber dengan memiliki ukuran p x l x t = 53 x 20 x 48 cm dan menggunakan frekuensi suara untuk memikat ikan berkumpul di sekitar rumpon portable, ujar Dr. Roza Yusfiandayani, S.Pi.

Potensi sumberdaya ikan di wilayah perairan Kalimantan Barat meliputi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 dan WPP 712. Kawasan ini terdapat potensi ikan pelagis kecil dan ikan demersal. Lateaknya di bagian timur Kalbar, Potensi sangat tinggi mencapai 395.451 ton per tahun untuk ikan pelagis kecil dan 400.517 ton pertahun untuk ikan demersal. Wilayah Selatan Kalbar potensi ikan pelagis kecil dan Demersal dengan potensi 303.886 ton per tahun untuk pelagis kecil dan 320.432 ton per tahun untuk ikan demersal.

Jaminan mutu dan hasil perikanan harus dijaga oleh nelayan Kalimantan Barat, hal ini sesuai standar untuk keamanan pangan (food safety) yang dirumuskan oleh Codex Alimentarius Comm. Secara internasional telah diakui adalah sistem mutu Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP). Sistem mutu HACCP merupakan sistem yang dikembangkan dengan prinsip dimana pengawasan mutu dilakukan secara sistematis, terpadu sejak dari awal sampai produk siap dikonsumsi. Perkembangan terakhir, sistem mutu HACCP merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh semua perusahaan perikanan yang akan melakukan ekspor produknya ke Amerika dan Uni Eropa.